![]() |
| ilustrasi |
Saya terpancing untuk ikut mengutarakan unek-unek saya ketika baru-baru ini masyarakat kita heboh dan diributkan soal adanya Polemik Beras Oplosan.
Dalam kasus ini di beberapa pemberitaan media nasional disebutkan bahwa semua ini bermula dari digebreknya sebuah pabrik beras milik PT Indo Beras Unggul (PT IBU) , anak perusahaan PT Tiga Pilar Sejahtera oleh Satgas Pangan.
Menurut pemberitaan yang beredar , PT IBU diduga meniru kualitas beras dalam kemasan. Namun secara tegas pihak PT IBU membantah meniru kualitas beras yang diolahnya dan mereka menegaskan jikalau yang mereka lakukan legal dan justru ingin mensejahterakan petani sebab mereka membeli gabah dari petani dengan harga yang lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah [HPP].
Menanggapi kasus ini , saya hanya ingin bilang , jikalau saya berterima kasih sekali kepada pihak manapun yang berani membeli gabah ke petani pribadi [tidak melalui perantara] dengan harga diatas HPL.
Namun saya juga menegaskan , tetap memohon untuk ketika menjualnya , jangan mengambil laba bersihnya terlalu tinggi diatas modal dan operasional.
Dalam goresan pena ini saya memang tidak akan secara khusus membahas soal polemik wacana kasus tersebut , melainkan saya ingin bicara terkait dengan pengetahuan saya terkait dengan beras dan petani.
Namun stidaknya menanggapi atas polemik ini , saya agak bersyukur sebab setidaknya gara-gara kasus ini mencuat , setidaknya saya ikut bahagia sebab setidaknya nama “petani dan nasibnya” menjadi episode dari pemberitaan. Walaupun saya sadar ini pasti hanyalah hanya “sekelebatan saja” yang saya pastikan tidak akan pernah dijadikan moment untuk bagaimana bisa mensejahterakan nasib petni ekcil di kampung-kampung.
Saya katakan demikian sebab biasanya , nasib para petani sepanjang saya dahulu jadi petani , gres akan muncul ke media hanya pada dua moment saja.
Pertama ketika moment animo pemilu dan kampanye , dimana saya pastikan pasti semua yang kampanye akan bilang jikalau mereka berjanji akan mensejahterakan rakyat miskin termasuk petani.
Kedua , biasanya ketika harga beras mahal , maka dis juga barulah nama petani disebut-sebut , Itupun petani kadang malah disudutkan. Padahal perlu anda tahu dan catat bahwa , semahal-mahalnya beras , saya pastikan petani kecil di kampung tidak akan pernah bisa kaya raya kalau hanya andalkan jadi petani , ingat !
Yang kaya bukan petani melainkan para pengepul beras dan pedagang penjual beras , lah yang saya pastikan akan jauh lebih kaya daripada petani!.
Jika menjadi petani kecil di kampung bisa membuat kaya , maka saya dan jutaan bawah umur petani di Indonesia tidak perlu capek-capek berjuang habis-habisan meninggalkan kampung biar saya dan anak cucu saya untuk jangan pernah jadi petani kecil di kampung , kecuali memang saya menginginkan kehidupan yang tetap miskin dan serba kekurangan!.
Inilah yang perlu anda ketahui bahwa jikalau beras mahal , maka anda wajib tahu dengan mahalnya harga beras , maka petani kecil di kampung tetap miskin. [catatan: Yang saya maksudkan petani disini yaitu khusus petani kecil , bukan petani juragan tanah dan sejenisnya]
Sedangkan yang kaya yaitu mereka para pengepul yang mereka tidak perlu capek-capek bagaimana sulit dan menderitanya menanam padi , tapi mereka para pengepul dan pedagang beras cukup membeli harga yang murah dari petani , kemudian menjualnya dengan harga lebih mahal.
Selama ini jikalau hingga ada harga beras mahal , ketahuilah jikalau semua sebab adanya pengepul-pengepul beras badung yang menurut saya mereka menyerupai mafia. Merekalah yang menentukan HARGA ketika membeli gabah ke petani.
Biasanya , dimana-mana yang MENENTUKAN harga sebuah produk pastinya PRODUSEN bukan?
Dalam hal beras , bukankah sewajibnya Petani kita anggap produsen [yang memproduksi gabah dan beras] , LOGIKANYA , para petani inilah yang PUNYA WEWENANG UNTUK MENENTUKAN HARGA GABAH DAN BERAS , sebab petanilah yang menanam padi sehingga bisa menghasilkan gabah kemudian diolah jadi beras.
Logikanya juga , petanilah yang SEAJIBNYA menghng , berapa modal yang harus dikeluarkan petani untuk bisa menghasilkan gabah dan beras. Mulai dari berapa modal beli pupuk , modal bayar ketika membajak sawah , modal membayar yang menanam , modal perawatan , dan lain-lain.
Belum lagi kalau kita hng berapa modal untuk beli tanahnya yang dijadikan daerah untuk menanam padi tersebut. Karena perlu anda catat dan ketahui bahwa petani di kampung tidak pernah menghng jikalau tanah sawah mereka yang dijadikan untuk menanam padi mereka sebagai modal.
Hal tersebut diakrenakan yang namanya petani kecil di kampung rata-rata sawah mereka hanyalah tanah warisan sehingga tidak dihng modal.
Anda saya tantang kalau masih tidak percaya dan ngeyel betapa menderitanya petani , silahkan anda coba saja beli sawah sendiri [bukan sawah warisan] , lalu anda tanami padi , maka anda gres tahu dan sadar betapa anda butuh puluhan tahun biar modal anda membeli sawah bisa balik dengan cara menjadi petani!.
Kondisi inilah yang hingga detik ini , sudah berganti presiden berkali-kali , menteri pertanian berkali-kali , faktanya mereka tetap TIDAK BECUS untuk bisa MENSEJAHTERKAN PETANI!
Itu kenapa walau kita negara yang katanya lebih banyak didominasi petani , tapi hampir semua produk petani kita tetap masih import dan import.
Karena alasan pula jutaan anak petani hari ini dan seterusnya , saya pastikan tidak akan pernah ada yang ingin jadi petani kecil di kampung!
[BACA Juga: Ketika Anak Petani Tidak Mau jadi Petani]
Kalaupun ada , paling ya mungkin kasusnya mereka anak petani dari tuan tanah yang memang sawahnya banyak sehingga mungkin saja mereka mau jadi petani sebab warisan tanah mereka banyak. Atau mungkin setelah punya banyak duit setelah kerja merantau dan banyak duit kemudian buat sambilan ia beli tanah dan sejenis lah kasusnya.
SOLUSI
Untuk bisa mencari solusi atas dilema ini biar nasib petani bisa sejahtera , maka yang paling punya wewenang pertama pastinya negara.
Negara memiliki wewenang untuk mengatur dan membuat kebijakan yang sangat memungkinkan supaya bisa mensejahterakan petani sebagaimana kesepakatan dan sumpah mereka ketika kampanye.
Solusi yang saya maksudkan , Pemerintah harus memutus mata rantai para berandal beras yang membeli harga gabah murah ke petani. Harga gabah yang dibeli dari petani harus diubahsuaikan dengan modal pengeluaran petani. Jika masih menyerupai sekarang ini , tetap saja jangan pernah berharap petani bisa sejahtera.
Jika perlu pemerintahlah yang pribadi membeli ke petani lalu kemudian pemerintah pula yang menentukan harga pasar sehingga harga tidak dikuasai oleh berandal beras.
Solusi lainya , jpemerintah harus membuat aturan yang menghapus pajak tanah petani kecil. Misalnya petani yang hanya memiliki sawah di bawah 1 hektar tanahnya tidak kena pajak.
Diluar tentunya dibutuhkan pelatihan khusus kepada petani , bagaimana dengan ia menjadi petani , maka petani tersebut bisa menjadi petani yanag sejahtera.
Memang sih kalau di pemberitaan apalagi publikasi pemerintah di televisi dan media , seakan-akan buanyaaaak sekali program-program untuk pertanian di Indonesia , tapi fakta di lapangan , saya bertahun-tahun jadi petani dulu , sama sekali tidak ada kontribusi pemerintah selain pupuk subsidi , pun kwalitasnya sangat buruk sehingga harus membeli pupuk sendiri untuk kwalitas yang lebih baik.
Solusi lain , jikalau anda masyarakat yang memang peduli dan ingin menolong petani , kalau bisa , belilah beras pribadi ke petani , saya pastikan anda pasti akan menerima harga lebih murah dan petani akan menerima keuntungan lebih banyak [samasama menguntungkan.
Selama ini nasib petani selalu diinjak-injak , negara selalu memaksa bahwa harga beras tidak boleh mahal , yang artinya sama saja MEMAKSA SUPAYA PETANI MEMANG SEWAJIBNYA MISKIN TERUS!
Idealnya memang solusinya begini [biar semua suka] ,
Harga beras mahal [Petani Senang] , dan Kesejahteraan rakyat secara pendapatan dinaikan , sehingga mereka akan tetap bisa membeli beras walau mahal. Kan akibatnya semuanya senang.
Namun jikalau anda masih ada yang ngeyel ingin tetap dapatkan harga beras murah , maka solusinya , silahkan beli harga dengan kwalitas yang sesuai dengan kemampuan. Toh harga beras juga bervariasi maam-macam.
Kalau ngikutin KEINGINAN , penginya otomatis beli beras murah dengan KWALITAS BAIK. Itu kan maunya anda sebagai pembeli. Tapi pernahkah anda berfikir dan membayangkan posisi sebagai PETANI?
Anda berpanas-panas nyangkul di sawah , kepanasan , harus merawat hampir setiap hari , mencbuti rumput di sekitar padi , mengusir burung , semprot hama , dll lalu kemudian dengan seenaknya orang beli dengan harga murah.
Kalau anda masih tetap ngeyel juga , CATAT INI!
SILAHKAN ANDA JADI PETANI!!! ,
BIAR SAYA BELI BERAS ANDA SEMURAH-MURAHNYA , MAU?!!!!!
Sumber: aribicara

