![]() |
| ilustrasi |
Menurut Ashurbeyli , semua negara pasti akan memiliki masalah. Begpun Asgardia , akan menemui dilema yang tak jauh berbeda dengan negara-negara yang sudah ada. "Tapi , bedanya , kita tidak ada di bumi ," ujarnya.
Lalu , bagaimana langkah Ashurbeyli menawarkan rasa aman kepada warganya? Ashurbeyli menawarkan gambaran menyerupai warga negara lainnya. "Kami akan membangun perwakilan di tiap negara yang bekerja sama. Warga negara yang punya paspor Asgardia mampu memanfaatkannya dengan cara meminta pinjaman di kedutaan tersebut ," ujar dia.
Ashurbeyli menjelaskan , departemen pemerintahan akan dikelola oleh orang-orang Asgardia yang mereka wakili. Sedangkan sentra manajemen akan berlokasi di Wina.
Meski beg , banyak andal masih memperdebatkan hukum Asgardia. Salah satunya yakni Joanne Gabrynowicz , pakar hukum antariksa dari Beijing Instte of Technology School of Law.
Menurut Gabrrnoqicz , sebuah negara harus punya beberapa persyaratan. Di antaranya , ya populasi permanen , wilayah , pemerintahan , dan kapasitas untuk melaksanakan kekerabatan antarnegara ,
"Premis bahwa Asgardia yakni bangsa masih mampu diperdebatkan ," kata Gabrynowicz.
Sejak diumumkan oleh sekelompok miliuner Rusia dan ilmuwan di Paris , Prancis , Oktober tahun lalu , antusiasme yang tinggi menuntut pengelola Asgardia mengubah konstsi seleksi warga.
Kini , menyerupai dikutip dari laman ss asgardia.space , pengelola Asgardia lebih ketat dan selektif dalam memilih warga negara mereka. Asgardia tidak akan menawarkan warga negara bagi orang yang pelit menawarkan informasi data diri. Dan menolak warga negara non-manusia misalnya robot dan hewan.
Oktober tahun lalu , para pemimpin proyek Asgardia membahas daerah tinggal futuristik yang dapat menampung 150 juta jiwa dalam sebuah konferensi pers di Paris , Prancis. Satelit pertama Asgardia rencananya akan diluncurkan pada tahun ini , awal dari sebuah proyek jangka panjang.
Sumber: tempo

